Tugas Softskill
Perilaku
dan Tahapan – Tahapan Audit Sistem Informasi
Tugas Softskill
4KA06
Nama : Muhammad Irfan ( 14116946)
v Pengertian
Audit Sistem Informasi
Audit
sistem informasi adalah proses pengumpulan dan penilaian bukti-bukti untuk
menentukan apakah sistem komputer dapat mengamankan aset, memelihara integritas
data, dapat mendorong pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan
menggunakan sumberdaya secara efisien
v Perilaku
Auditor
Secara
umum etika dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang nilai norma
kebiasaan yang mendasari perilaku manusia mengenai baik, buruk, benar, salah,
hak dan kewajiban serta tanggung jawab. Seseorang yang beretika diatur oleh
kode etik melalui perilaku moral suatu profesi dalam ketentuan-ketentuan
tertulis maupun tidak tertulis yang harus ditaati. Tujuannya adalah untuk
menghindari perilaku-perilaku yang menyimpang yang akan dilakukan oleh profesi.
Etika sangat berperan penting dalam profesi auditor. Etika seorang auditor akan
mempengaruhi standar kualitas audit, hal
ini dikarenakan seorang audit memiliki tanggung jawab dan pengabdian yang besar
terhadap masyarakat. Audit dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
a) Audit internal
merupakan
auditor yang berasal dari organisasi itu sendiri.
b)
Audit eksternal
adalah
auditor yang berasal dari luar organisasi yang disewa untuk memeriksa laporan
pada organisasi tersebut.
Berikut merupakan prinsip-prinsip
seorang auditor antara lain :
1. Integritas
Dalam
integritas, seorang auditor harus membangun kepercayaan agar dapat memberikan
penilaian yang baik dan dapat dipercaya. Dalam integritas ini, seorang auditor
harus melakukan tugasnya dengan kejujuran, ketekukan, dan juga tanggung jawab. Secara
sadar, seorang auditor tidak boleh melalukan tindakan yang ilegal dan harus
menghormati serta turut berkontibusi pada tujuan yang etis dan sah pada
organisasi tersebut.
2.
Objektivitas
Dalam
menunjukkan objektivitas yang profesional, seorang auditor harus membuat
penilaian yang seimbang yang tidak boleh dikaitkan dengan masalah pribadi.
Untuk kepentingan organisasi, seorang audit tidak boleh melakukan hal-hal yang
bertentangan dengan berpartisipasi dalam kegiatan apapun yang sifatnya
mengganggu penilaian mereka dan harus mengungkapkan segala fakta yang diketahui
agar tidak mengganggu laporan yang sedang diperiksa.
3.
Kerahasiaan
Tentunya
setiap organisasi memiliki rahasianya yang tidak boleh diketahui oleh pihak
luar. Auditor yang mengetahui kepemilikan informasi tidak berhak untuk mengungkapkannya
tanpa ada izin terlebih dahulu karena sudah ada ketentuan Undang-Undangnya dan
sudah merupakan kewajiban seorang auditor untuk menghormatinya. Oleh karenanya,
dalam melaksanakan tugasnya seorang auditor harus berhati-hati dalam
menggunakan dan menjaga informasi organisasi dan juga tidak boleh menggunakan
informasi organisasi untuk kepentingan pribadi dalam bentuk apapun.
4.
Kompetensi
Dalam
melaksanakan tugasnya, seorang auditor harus mengembangkan pengetahuan,
keterampilan, dan pengalamannya dan akan terus menerus meningkatkan kemampuan
dan efektivitas dan kualitas layanan.
v Interaksi
keahlian dalam Audit Sistem Informasi
Audit Sistem Informasi bukan hanya sekedar perluasan dari
traditional auditing (manual auditing). Kebutuhan akan audit sistem informasi
beranjak dari dua hal, yaitu: Pertama, auditor menyadari bahwa komputer
berpengaruh dalam fungsi atestasi yang mereka lakukan. Kedua, organisasi dan
manajemen menyadari bahwa sistem informasi komputer merupakan sumberdaya yang
bernilai sehingga perlu adanya pengendalian seperti halnya sumberdaya lain
dalam organisasi.
Audit Sistem Informasi
merupakan interseksi dari empat bidang ilmu, yaitu:
1)
Taditional Auditing (Traditional Auditing)
Traditional
Auditing memberikan pengetahuan dan pengalaman tentang teknik pengendalian
internal di sebuah sistem informasi. Beberapa pengendalian yang dilakukan dalam
audit tradisional dapat dilakukan secara langsung dalam pengendalian di
lingkungan PDE. Metodologi umum untuk mengumpulkan dan mengevaluasi bukti yang
digunakan pada lingkungan PDE berasal dari audit tradisional. Auditor yang
berpengalaman dan dengan tambahan pemahaman pengetahuan tentang komputer akan
lebih mudah menerapkan logika pengendalian internal yang tradisional ke basis
komputer.
2)
Information System Management
Banyak
kejadian ketika awal penerapan sebuah sistem pemrosesan data elektronik terjadi
banyak ‘kecelakaan’. Seringkali memerlukan biaya yang sangat tinggi dan sering
pula terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan. Hal ini karena belum adanya
manajemen sistem informasi yang baik pada saat itu. Sebuah Information System
Management akan menghasilkan cara-cara penerapan sistem informasi berbasis
komputer pada perusahaan dengan lebih baik melalui
tahap-tahap
pengembangan sistem, seperti: analisis sistem, perancangan sistem, programming,
testing, implementation dan kemudian operasional serta pemantauan dan
evaluasinya.
3)
Computer Science
Pengetahuan
teknik mengenai ilmu komputer sangat penting agar dapat menghasilkan kemampuan
sistem informasi berbasis komputer yang dapat digunakan untuk safeguard assets,
integritas data, efektifitas dan efisiensi. Teknologi komputer yang berkembang
pesat dengan munculnya e-commerce, e-business, dan sebagainya akan membawa
pengaruh besar kepada perkembangan teknologi informasi.
4)
Behavioral Science
Kegagalan
penerapan sistem informasi berbasis komputer di banyak organsiasi seringkali
juga karena masalah perilaku organisasional, yang terkadang sering diabaikan
dalam pengembangan sistem informasi. Kegagalan tersebut dikarenakan oleh adanya
‘resistance to change’ yang berasal dari puhak-pihak yang terkena dampak
penerapan sistem informasi berbasis.
v Audit
Sistem Informasi
Istilah
EDP-Audit (electronic data processing audit), atau computer audit, kini lebih
sering disebut dengan audit sistem informasi (information systems audit). Pada
awalnya EDP audit dilakukan hanya dalam rangka audit laporan keuangan. Dalam perkembangannya kemudian, karena
pentingnya dan makin besarnya investasi dalam TI. Organisasi perusahaan makin
merasakan perlunya audit operasional terhadap fungsi TI-nya. Maka secara umum
audit sistem informasi dimaksudkan untuk mengavaluasi tingkat kesesuaian antara
sistem informasi dengan prosedur bisnis (bisnis processes) perusahaan (atau
kebutuhan pengguna, user needs), untuk mengetahui apakah suatu sistem informasi
telah didesain dan diimpilmentasikan secara efektif, efisien, dan ekonomis,
memiliki mekanisme pengamanan aset, serta menjamin integritas data yang
memadai.
Audit
SI berbasis teknologi informasi dapat digolongkan dalam tipe atau jenis-jenis
pemeriksaan:
a) Audit laporan keuangan (general audit on
financial)
Dalam hal ini audit terhadap aspek-aspek
teknologi informasi pada suatu sistem informasi. akuntansi berbasis teknologi
informasi adalah dilaksanakan dalam rangka audit keuangan.
b) Audit sistem informasi (SI) sebagai
kegiatan tersendiri, terpisah dari pada keuangan. Sebetulnya audit SI pada
hakekatnya salah satu dari bentuk audit operasional, tetapi kini lebih dikenal
sebagai satu satuan jenis audit tersendiri yang tujuan utamanya lebih untuk
meningkatkan IT governance.
v Tujuan
Audit Sistem Informasi
a) Pengamanan aset
Aset informasi suatu perusahaan seperti
perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), sumber daya manusia,
dan data harus dijaga dengan sistem pengendalian intern yang baik agar tidak
ada penyalahgunaan aset perusahaan.
b) Efektifitas sistem
Efektifitas sistem informasi perusahaan
memiliki peranan penting dalam proses pengmbilan keputusan. Suatu sistem
informasi dapat dikatakan efektif bila sistem informasi tersebut sudah
dirancang dengan benar (doing the right thing), telah sesuai dengan kebutuhan
user. Informasi yang dibutuhkan oleh para manajer dapat dipenuhi dengan baik.
c) Efisiensi sistem
Efisiensi menjadi sangat penting ketika
sumber daya kapasitasnya terbatas. Jika cara kerja dari sistem aplikasi
komputer menurun maka pihak manajemen harus mengevaluasi apakah efisiensi
sistem masih memadai atau harus menambah sumber daya, karena suatu sistem dapat
dikatakan efisien jika sistem informasi dapat memnuhi kebutuhan user dengan
sumber daya informasi yang minimal. Cara kerja sistem benar (doing thing
right).
d) Ketersediaan (Availability)
Berhubungan dengan ketersediaan
dukungan/layanan teknologi informasi (TI). TI hendaknya dapat mendukung secara
kontinyu terhadap proses bisnis kegiatan perusahaan. Makin sering terjadi
gangguan (system down) maka berarti tingkat ketersediaan sistem rendah.
e) Kerahasiaaan (Confidentiality)
Fokusnya ialah pada proteksi terhadap
informasi dan supaya terlindungi dari akses dari pihak yang idak berwenang.
f) Kehandalan (Realibility)
Berhubungan dengan kesesuaian dan
kekuratan bagi manajemen dalam pengolahan organisasi, pelaporan dan
pertanggungjawaban.
g) Menjaga integritas data
Integritas data (data integrity) adalah
salah satu konsep dasar sistem informasi. Data memiliki atribut-atribut seperti
kelengkapan kebenaran dan keakuratan.
v Tahapan
Audit Sistem Informasi
1.
Perencanaan (Planning)
Tahap
perencanaan ini yang akan dilakukan adalah menentukan ruang lingkup (scope),
objek yang akan diaudit, standard evaluasi dari hasil audit dan komunikasi
dengan managen pada organisasi yang bersangkutan dengan menganalisa visi, misi,
sasaran dan tujuan objek yang diteliti serta strategi, kebijakan-kebijakan yang
terkait dengan pengolahan investigasi.
Perencanaan
meliputi beberapa aktivitas utama, yaitu:
1)
Penetapan ruang lingkup dan tujuan audit
2)
Pengorganisasian tim audit
3)
Pemahaman mengenai operasi bisnis klien
4)
Kaji ulang hasil audit sebelumnya
5)
Penyiapan program audit
2.
Pemeriksaan Lapangan (Field Work)
Tahap
ini yang akan dilakukan adalah pengumpulan informasi yang dilakukan dengan cara
mengumpulkan data dengan pihak-pihak yang terkait. Hal ini dapat dilakukan
dengan menerapan berbagai metode pengumpulan data yaitu: wawancara, quesioner
ataupun melakukan survey ke lokasi penelitian.
3.
Pelaporan (Reporting)
Audit
Sistem Informasi – Setelah proses pengumpulan data, maka akan didapat data yang
akan diproses untuk dihitung berdasarkan perhitungan maturity level. Pada tahap
ini yang akan dilakukan memberikan informasi berupa hasil-hasil dari audit.
Perhitungan maturity level dilakukan mengacu pada hasil wawancara, survey dan rekapitulasi
hasil penyebaran quesioner. Berdasarkan hasil maturity level yang mencerminkan
kinerja saat ini (current maturity level) dan kinerja standard atau ideal yang
diharapkan akan menjadi acuan untuk selanjutnya dilakukan analisis kesenjangan
(gap). Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kesenjangan (gap) serta
mengetahui apa yang menyebabkan adanya gap tersebut.
4.
Tindak Lanjut (Follow Up)
Tahap
ini yang dilakukan adalah memberikan laporan hasil audit berupa rekomendasi
tindakan perbaikan kepada pihak managemen objek yang diteliti, untuk
selanjutnya wewenang perbaikan menjadi tanggung jawab managemen objek yang
diteliti apakah akan diterapkan atau hanya menjadi acuhan untuk perbaikan
dimasa yang akan datang.
v Jenis
– jenis Audit Sistem Informasi
1.
Audit Secara Bersamaan (Concurrent Audit)
Auditor
merupakan anggota dari tim pengembangan sistem, mereka membantu tim dalam
meningkatkan kualitas dan pengembangan untuk sistem spesifikasi yang mereka
bangun dan akan diimpilakasikan.
2.
Audit Setelah Implementasi (Post Implementation Audit)
Audito
membantu organisasi untuk belajar dari pengalaman pengembangan dari sistem
aplikasi. Mereka mengevaluasi apakah sistem perlu dihentikan, dilanjutkan atau
di modifikasi.
3.
Audit Umum (General Audit)
Auditor
mengevaluasi kontrol pengembangan sistem secara keseluruhan, memberi opini
audit tentang pernyataan keungan ataupun tentang keefektifitasan dan
keefisienan sistem.
DAFTAR PUSTAKA :
Komentar
Posting Komentar